Warteg, Kakilima, Pelanduk..
Harga BBM belum pula dinaikkan hari ini. Tetapi antrian konsumen premium di SPBU sudah menjadi pemandangan umum di mana-mana. Satu hal karena pasokan ternyata juga berkurang, di lain hal ada keinginan sementara pihak untuk meraih keuntungan dari selisih harga lama dengan harga baru.
Dalam sebulan ini, kelangkaan LPG juga sudah membuat panik warga kota, bahkan sebelum kilang Indramayu ‘bermasalah’. LPG menghilang, atau cuma tersedia dalam jumlah yang sedikit di toko-toko, membuat harganya naik hampir 3 kali lipat. Antrian serupa sudah terlebih dahulu menghiasai halaman muka media cetak tanah air (pasti juga seluruh dunia tahu, globalisasi…) BBM pun menemukan arti baru menjadi Benar Benar Menyengsarakan, kata seorang penulis. Bahan pokok? ah, sebelum ada pengumuman rencana kenaikan harga BBM sudah melayang-layang bebas. Menjauhi daya jangkau sebagian masyarakat untuk membeli. Krisis demi krisis itu datang tetapi tidak segera berlalu.
Satu per satu industri pun mulai menahan nafas. Kenaikan BBM jelas tidak akan berhenti sebatas naiknya harga minyak tanah, solar, dan premium saja. Ada efek domino yang selalu reaktif menyertai peristiwa itu. Selain ongkos overhead bertambah, di lain pihak pengusaha pun harus menyiasati margin keuntungan yang semakin menipis. Sementara daya beli masyarakat mengalami penurunan, harga produk justeru disesuaikan. Alih-alih mendapatkan keuntungan, bertahan hidup saja mungkin sudah bagus.
Bagaimana dengan industri kecil yang ketergantungannya terhadap BBM bersubsidi, bahan pokok, serta pangsa pasar menengah ke bawah sangat besar, khususnya Warteg dan Kakilima?
Semasa musin krismon beberapa tahun lalu, sektor industri kecil dipuji sebagai sektor yang paling mampu bertahan menerima tekanan akibat krisis. Barangkali karena di saat industri besar bertumbangan dihempas badai krisis, kakilima justeru bertumbuh bak jamur di musim hujan (ini jelas anomali). Tidak jelas benar asumsi ini berdasarkan fakta atau hanya karena sektor ini relatif tidak terlihat menyolok sehingga seperti pepatah arab mengatakan ” wujudihi ka adamih”, adanya sama dengan ketiadaannya. Ini mengingat sektor kecil ini tidak dilirik oleh para investor besar dan merupakan komunitas sub ekonomi yang jauh dari perbincangan para pembuat kebijakan. Kadang-kadang juga merupakan kegiatan ekonomi yang tiba-tiba (setelah terjadi PHK atau gagal panen di desa, misalnya). Sehingga dalam kondisi ‘normal’ peran mereka malah dipinggirkan, tempat berusaha digusur, dikejar-kejar pamong praja demi alasan estetika kota. Maka ketika ternyata daya tahan mereka teruji dalam krisis, banyak para ekonom terbelalak.
Fakta empiris memperlihatkan bahwa daya tahan mereka terhadap krisis jebol juga pada akhirnya. Dengan harga barang-barang kebutuhan pokok ditambah BBM yang tidak stabil (naik terus) kesulitan pertama adalah menghilangnya pasokan. Kemudian, ketika barang tersedia, harganya jauh lebih mahal. Kesulitan berikutnya adalah dalam mengatur struktur biaya untuk menenetukan harga penjualan. Dengan karakter konsumen yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga, penyesuaian sedikit saja dari harga biasanya, akan menyebabkan berkurangnya jumlah konsumen dan menimbun kerugian. Setali tiga uang dengan industri besar. Hanya berbeda pada intensitas.
Barangkali para pemodal besar bisa menghentikan produksinya sementara, atau menutup pabriknya. Itu hanya berakibat langsung pada orang di luar dirinya. Sementara dia masih bisa eksis dengan sisa bunga deposito, saham, atau kekayaannya (yang diperoleh dari pinjaman bank). Tidak demikian dengan para pelaku usaha kecil. Tutup, ya tutup juga dapur keluarganya. Lebih beruntungnya pasca penutupan usaha, mereka tidak dikejar aparat kejaksaan akibat tersangkut utang dengan pihak bank atau otoritas moneter. Hebatnya orang Indonesia, sudah jatuh buntung masih untung tidak mati.
Di tengah kepanikan yang melanda, di gedung parlemen, para wakil rakyat yang terhormat juga tengah sibuk diri berjaga-jaga jangan sampai perilaku korupnya terendus intel KPK. Sibuk juga mempersiapkan diri untuk pesta rakyat yang bernama Pemilu. Kita tidak bisa lagi mencerna dengan jernih mana suara yang hanya tebar pesona dan mana suara yang mewakili nuraninya. Ketika mereka menolak rencana pemerintah menaikkan BBM, apakah itu dalam rangka menyuarakan jeritan rakyat yang ‘diwakilinya’ atau mereka sedang bermain drama yang sama, membosankan. Harap maklum, kurang dari setahun lagi mereka harus bertempur merebutkan kursinya lagi. Kursi empuk yang membuat kantuk itu, sekaligus membuat mabuk. Kasihan para pelanduk…
Warteg atau pedagang kakilima itu sebenarnya hanyalah simbolisasi dari kegigihan upaya bertahan hidup di tengah dominasi kapitalisme. Mereka sebenarnya contoh nyata kemandirian tanpa banyak kata dan slogan. Tak mengharapkan kucuran kredit bank (dan jelas tak akan mungkin), tidak mengharapkan fasilitas pemerintah, mereka langsung berhadapan sendiri dengan kerasnya persaingan hidup. Mereka adalah simbol dari pelaku ekonomi yang disubordinasikan oleh kekuatan modal pasar bebas, oleh negara. Negara yang secara konstitusi diamanatkan untuk menjamin penghidupan dan pekerjaan yang layak.
Ketika kondisi semakin tidak berpihak kepada mereka, sebenarnya kita tengah menunggu saat runtuhnya benteng pertahanan terakhir kita dari serangan krisis.
Bandung, Mei 2008
KH
DIarsipkan di bawah: Bebas | yang berkaitan: Nasi Goreng, Warung Tegal
bagus…..tp kembali ke tujuan awal, ‘ biar gak jd bisul’.
gak usah ikutan demo di dpn istana, panaaas kang…..
njih Ripur, biarlah yg muda yg demo, yang sudah jadul ngomporin aja lewat Blog..